Sunday, May 13, 2012

Indahnya cinta Karena Allah


Penulis: Ummul Hasan
Muroja’ah: Ustadz Subhan Khadafi, Lc.
“Tidaklah seseorang diantara kalian dikatakan beriman, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya sebagaimana dia mencintai sesuatu bagi dirinya sendiri.”

Secara nalar pecinta dunia, bagaimana mungkin kita mengutamakan orang lain dibandingkan diri kita? Secara hawa nafsu manusia, bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu yang kita cintai kepada saudara kita?
Pertanyaan tersebut dapat terjawab melalui penjelasan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dalam syarah beliau terhadap hadits diatas (selengkapnya, lihat di Syarah Hadits Arba’in An-Nawawiyah).
(“Tidaklah seseorang beriman” maksudnya adalah -pen). Para ulama berkata, “yakni tidak beriman dengan keimanan yang sempurna, sebab jika tidak, keimanan secara asal tidak didapatkan seseorang kecuali dengan sifat ini.”
Maksud dari kata “sesuatu bagi saudaranya” adalah berupa ketaatan, dan sesuatu yang halal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i.
“…hingga dia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan sebagaimana dia mencintai jika hal itu terjadi bagi dirinya.”
Syaikh Abu Amru Ibnu Shalah berkata, “Hal ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan mustahil, padahal tidaklah demikian, karena makna hadits ini adalah tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga dia mencintai bagi keislaman saudaranya sebagaimana dia mencintai bagi dirinya. Menegakkan urusan ini tidak dapat direalisasikan dengan cara menyukai jika saudaranya mendapatkan apa yang dia dapatkan, sehingga dia tidak turut berdesakan dengan saudaranya dalam merasakan nikmat tersebut dan tidak mengurangi kenikmatan yang diperolehnya. Itu mudah dan dekat dengan hati yang selamat, sedangkan itu sulit terjadi pada hati yang rusak, semoga Allah Ta’ala memaafkan kita dan saudara-saudara kita seluruhnya.”
Abu Zinad berkata, “Sekilas hadits ini menunjukkan tuntutan persamaan (dalam memperlakukan dirinya dan saudaranya), namun pada hakekatnya ada tafdhil (kecenderungan untuk memperlakukan lebih), karena manusia ingin jika dia menjadi orang yang paling utama, maka jika dia menyukai saudaranya seperti dirinya sebagai konsekuensinya adalah dia akan menjadi orang yang kalah dalam hal keutamaannya. Bukankah anda melihat bahwa manusia menyukai agar haknya terpenuhi dan kezhaliman atas dirinya dibalas? Maka letak kesempurnaan imannya adalah ketika dia memiliki tanggungan atau ada hak saudaranya atas dirinya maka dia bersegera untuk mengembalikannya secara adil sekalipun dia merasa berat.”
Diantara ulama berkata tentang hadits ini, bahwa seorang mukmin satu dengan yang lain itu ibarat satu jiwa, maka sudah sepantasnya dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya karena keduanya laksana satu jiwa sebagaimana disebutkan dalam hadits yang lain:
“Orang-orang mukmin itu ibarat satu jasad, apabila satu anggota badan sakit, maka seluruh jasad turut merasakan sakit dengan demam dan tidak dapat tidur.” (HR. Muslim)
“Saudara” yang dimaksud dalam hadits tersebut bukan hanya saudara kandung atau akibat adanya kesamaan nasab/ keturunan darah, tetapi “saudara” dalam artian yang lebih luas lagi. Dalam Bahasa Arab, saudara kandung disebut dengan Asy-Asyaqiiq ( الشَّّقِيْقُ). Sering kita jumpa seseorang menyebut temannya yang juga beragama Islam sebagai “Ukhti fillah” (saudara wanita ku di jalan Allah). Berarti, kebaikan yang kita berikan tersebut berlaku bagi seluruh kaum muslimin, karena sesungguhnya kaum muslim itu bersaudara.
Jika ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin kita menerapkan hal ini sekarang? Sekarang kan jaman susah. Mengurus diri sendiri saja sudah susah, bagaimana mungkin mau mengutamakan orang lain?”
Wahai saudariku -semoga Allah senantiasa menetapkan hati kita diatas keimanan-, jadilah seorang mukmin yang kuat! Sesungguhnya mukmin yang kuat lebih dicintai Allah. Seberat apapun kesulitan yang kita hadapi sekarang, ketahuilah bahwa kehidupan kaum muslimin saat awal dakwah Islam oleh Rasulullah jauh lebih sulit lagi. Namun kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya jauh melebihi kesedihan mereka pada kesulitan hidup yang hanya sementara di dunia. Dengarkanlah pujian Allah terhadap mereka dalam Surat Al-Hasyr:
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar(ash-shodiquun). Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 8-9)
Dalam ayat tersebut Allah memuji kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk memperoleh kebebasan dalam mewujudkan syahadat mereka an laa ilaha illallah wa anna muhammadan rasulullah. Mereka meninggalkan kampung halaman yang mereka cintai dan harta yang telah mereka kumpulkan dengan jerih payah. Semua demi Allah! Maka, kaum muhajirin (orang yang berhijrah) itu pun mendapatkan pujian dari Allah Rabbul ‘alamin. Demikian pula kaum Anshar yang memang merupakan penduduk Madinah. Saudariku fillah, perhatikanlah dengan seksama bagaimana Allah mengajarkan kepada kita keutamaan orang-orang yang mengutamakan saudara mereka. Betapa mengagumkan sikap itsar (mengutamakan orang lain) mereka. Dalam surat Al-Hasyr tersebur, Allah memuji kaum Anshar sebagai Al-Muflihun (orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat) karena kecintaan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin, dan mereka mengutamakan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (kaum Anshar) sebenarnya juga sedang berada dalam kesulitan. Allah Ta’aala memuji orang-orang yang dipelihara Allah Ta’aala dari kekikiran dirinya sebagai orang-orang yang beruntung. Tidaklah yang demikian itu dilakukan oleh kaum Anshar melainkan karena keimanan mereka yang benar-benar tulus, yaitu keimanan kepada Dzat yang telah menciptakan manusia dari tanah liat kemudian menyempurnakan bentuk tubuhnya dan Dia lah Dzat yang memberikan rezeki kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya serta menghalangi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki.
Tapi, ingatlah wahai saudariku fillah, jangan sampai kita tergelincir oleh tipu daya syaithon ketika mereka membisikkan ke dada kita “utamakanlah saudaramu dalam segala hal, bahkan bila agama mu yang menjadi taruhannya.” Saudariku fillah, hendaklah seseorang berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi agamanya. Misalkan seorang laki-laki datang untuk sholat ke masjid, dia pun langsung mengambil tempat di shaf paling belakang, sedangkan di shaf depan masih ada tempat kosong, lalu dia berdalih “Aku memberikan tempat kosong itu bagi saudaraku yang lain. Cukuplah aku di shaf belakang.” Ketahuilah, itu adalah tipu daya syaithon! Hendaklah kita senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan agama kita. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh: 148)
Berlomba-lombalah dalam membuat kebaikan agama, bukan dalam urusan dunia. Banyak orang yang berdalih dengan ayat ini untuk menyibukkan diri mereka dengan melulu urusan dunia, sehingga untuk belajar tentang makna syahadat saja mereka sudah tidak lagi memiliki waktu sama sekali. Wal iyadzu billah. Semoga Allah menjaga diri kita agar tidak menjadi orang yang seperti itu.
Wujudkanlah Kecintaan Kepada Saudaramu Karena Allah
Mari kita bersama mengurai, apa contoh sederhana yang bisa kita lakukan sehari-hari sebagai bukti mencintai sesuatu bagi saudara kita yang juga kita cintai bagi diri kita…
Mengucapkan Salam dan Menjawab Salam Ketika Bertemu
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Tidak maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai: Sebarkanlah salam diantara kalian.”(HR. Muslim)
Pada hakekatnya ucapan salam merupakan do’a dari seseorang bagi orang lain. Di dalam lafadz salam “Assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh” terdapat wujud kecintaan seorang muslim pada muslim yang lain. Yaitu keinginannya agar orang yang disapanya dengan salam, bisa memperoleh keselamatan, rahmat, dan barokah. Barokah artinya tetapnya suatu kebaikan dan bertambah banyaknya dia. Tentunya seseorang senang bila ada orang yang mendo’akan keselamatan, rahmat, dan barokah bagi dirinya. Semoga Allah mengabulkan do’a tersebut. Saudariku fillah, bayangkanlah! Betapa banyak kebahagiaan yang kita bagikan kepada saudara kita sesama muslim bila setiap bertemu dengan muslimah lain -baik yang kita kenal maupun tidak kita kenal- kita senantiasa menyapa mereka dengan salam. Bukankah kita pun ingin bila kita memperoleh banyak do’a yang demikian?! Namun, sangat baik jika seorang wanita muslimah tidak mengucapkan salam kepada laki-laki yang bukan mahromnya jika dia takut akan terjadi fitnah. Maka, bila di jalan kita bertemu dengan muslimah yang tidak kita kenal namun dia berkerudung dan kita yakin bahwa kerudung itu adalah ciri bahwa dia adalah seorang muslimah, ucapkanlah salam kepadanya. Semoga dengan hal sederhana ini, kita bisa menyebar kecintaan kepada sesama saudara muslimah. Insya Allah…
Bertutur Kata yang Menyenangkan dan Bermanfaat
Dalam sehari bisa kita hitung berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk sekedar berkumpul-kumpul dan ngobrol dengan teman. Seringkali obrolan kita mengarah kepada ghibah/menggunjing/bergosip. Betapa meruginya kita. Seandainya, waktu ngobrol tersebut kita gunakan untuk membicarakan hal-hal yang setidaknya lebih bermanfaat, tentunya kita tidak akan menyesal. Misalnya, sembari makan siang bersama teman kita bercerita, “Tadi shubuh saya shalat berjamaah dengan teman kost. Saya yang jadi makmum. Teman saya yang jadi imam itu, membaca surat Al-Insan. Katanya sih itu sunnah. Memangnya apa sih sunnah itu?” Teman yang lain menjawab, “Sunnah yang dimaksud teman anti itu maksudnya ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memang disunnahkan untuk membaca Surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at.” Lalu, teman yang bertanya tadi pun berkata, “Ooo… begitu, saya kok baru tahu ya…” Subhanallah! Sebuah makan siang yang berubah menjadi “majelis ilmu”, ladang pahala, dan ajang saling memberi nasehat dan kebaikan pada saudara sesama muslimah.
Mengajak Saudara Kita Untuk Bersama-Sama Menghadiri Majelis ‘Ilmu
Dari obrolan singkat di atas, bisa saja kemudian berlanjut, “Ngomong-ngomong, kamu tahu darimana kalau membaca surat Al-Insan di rakaat kedua shalat shubuh di hari Jum’at itu sunnah?” Temannya pun menjawab, “Saya tahu itu dari kajian.” Alhamdulillahbila ternyata temannya itu tertarik untuk mengikuti kajian, “Kalau saya ikut boleh nggak? Kayaknya menyenangkan juga ya ikut kajian.” Temannya pun berkata, “Alhamdulillah, insyaAllah kita bisa berangkat sama-sama. Nanti saya jemput anti di kost.”
Saling Menasehati, Baik Dengan Ucapan Lisan Maupun Tulisan
Suatu saat ‘Umar radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya tentang aibnya kepada shahabat yang lain. Shahabat itu pun menjawab bahwa dia pernah mendengar bahwa ‘Umarradhiyallahu ‘anhu memiliki bermacam-macam lauk di meja makannya. Lalu ‘Umarradhiyallahu ‘anhu pun berkata yang maknanya ‘Seorang teman sejati bukanlah yang banyak memujimu, tetapi yang memperlihatkan kepadamu aib mu (agar orang yang dinasehati bisa memperbaiki aib tersebut. Yang perlu diingat, menasehati jangan dilakukan didepan orang banyak. Agar kita tidak tergolong ke dalam orang yang menyebar aib orang lain. Terdapat beberapa perincian dalam masalah ini -pen).’ Bentuk nasehat tersebut, bukan hanya secara lisan tetapi bisa juga melalui tulisan, baik surat, artikel, catatan saduran dari kitab-kitab ulama, dan lain-lain.
Saling Mengingatkan Tentang Kematian, Yaumil Hisab, At-Taghaabun (Hari Ditampakkannya Kesalahan-Kesalahan), Surga, dan Neraka
Sangat banyak orang yang baru ingin bertaubat bila nyawa telah nyaris terputus. Maka, diantara bentuk kecintaan seorang muslim kepada saudaranya adalah saling mengingatkan tentang kematian. Ketika saudaranya hendak berbuat kesalahan, ingatkanlah bahwa kita tidak pernah mengetahui kapan kita mati. Dan kita pasti tidak ingin bila kita mati dalam keadaan berbuat dosa kepada Allah Ta’ala.
Saudariku fillah, berbaik sangkalah kepada saudari muslimah mu yang lain bila dia menasehati mu, memberimu tulisan-tulisan tentang ilmu agama, atau mengajakmu mengikuti kajian. Berbaik sangkalah bahwa dia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Sebagaimana dia pun menginginkan yang demikian bagi dirinya. Karena, siapakah gerangan orang yang senang terjerumus pada kubangan kesalahan dan tidak ada yang mengulurkan tangan padanya untuk menariknya dari kubangan yang kotor itu? Tentunya kita akan bersedih bila kita terjatuh di lubang yang kotor dan orang-orang di sekeliling kita hanya melihat tanpa menolong kita…
Tidak ada ruginya bila kita banyak mengutamakan saudara kita. Selama kita berusaha ikhlash, balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala menanti kita. Janganlah risau karena bisikan-bisikan yang mengajak kita untuk “ingin menang sendiri, ingin terkenal sendiri”. Wahai saudariku fillah, manusia akan mati! Semua makhluk Allah akan mati dan kembali kepada Allah!! Sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Maka, melakukan sesuatu untuk Dzat Yang Maha Kekal tentunya lebih utama dibandingkan melakukan sesuatu sekedar untuk dipuji manusia. Bukankah demikian?
Janji Allah Ta’Ala Pasti Benar !
Saudariku muslimah -semoga Allah senantiasa menjaga kita diatas kebenaran-, ketahuilah! Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kemuliaan di Akhirat. Terdapat beberapa Hadits Qudsi tentang hal tersebut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR. Muslim; Shahih)
Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.’”
Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan, “Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman, ‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’ Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.” (HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)
Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia menuturkan, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR. At-Tirmidzi; Shahih)
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat (artinya: “Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.” Do’a ini diucapkan Rasulullah bila beliau mendapatkan hal yang menyenangkan). Allah Ta’aala menyediakan bagi kita lahan pahala yang begitu banyak. Allah Ta’aala menyediakannya secara cuma-cuma bagi kita. Ternyata, begitu sederhana cara untuk mendapat pahala. Dan begitu mudahnya mengamalkan ajaran Islam bagi orang-orang yang meyakini bahwa esok dia akan bertemu dengan Allah Rabbul ‘alamin sembari melihat segala perbuatan baik maupun buruk yang telah dia lakukan selama hidup di dunia. Persiapkanlah bekal terbaik kita menuju Negeri Akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dan orang-orang yang kita cintai karena Allah di Surga Firdaus Al-A’laa bersama para Nabi, syuhada’, shiddiqin, dan shalihin. Itulah akhir kehidupan yang paling indah…

99 Langkah Menuju Kesempurnaan Iman.

01. Bersyukur apabila mendapat nikmat; 
02. Sabar apabila mendapat kesulitan; 
03. Tawakal apabila mempunyai rencana/program; 
04. Ikhlas dalam segala amal perbuatan; 
05. Jangan membiarkan hati larut dalam kesedihan; 
06. Jangan menyesal atas sesuatu kegagalan; 
07. Jangan putus asa dalam menghadapi kesulitan; 
08. Jangan usil dengan kekayaan orang; 
09. Jangan hasad dan iri atas kesuksessan orang; 
10. Jangan sombong kalau memperoleh kesuksessan; 
11. Jangan tamak kepada harta; 
12. Jangan terlalu ambitious akan sesuatu kedudukan; 
13. Jangan hancur karena kezaliman; 
14. Jangan goyah karena fitnah; 
15. Jangan berkeinginan terlalu tinggi yang melebihi kemampuan diri. 
16. Jangan campuri harta dengan harta yang haram; 
17. Jangan sakiti ayah dan ibu; 
18. Jangan usir orang yang meminta-minta; 
19. Jangan sakiti anak yatim; 
20. Jauhkan diri dari dosa-dosa yang besar; 
21. Jangan membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil; 
22. Banyak berkunjung ke rumah Allah (masjid); 
23. Lakukan shalat dengan ikhlas dan khusyu; 
24. Lakukan shalat fardhu di awal waktu, berjamaah di masjid; 
25. Biasakan shalat malam; 
26. Perbanyak dzikir dan do'a kepada Allah; 
27. Lakukan puasa wajib dan puasa sunat; 
28. Sayangi dan santuni fakir miskin; 
29. Jangan ada rasa takut kecuali hanya kepada Allah; 
30. Jangan marah berlebih-lebihan; 
31. Cintailah seseorang dengan tidak berlebih-lebihan; 
32. Bersatulah karena Allah dan berpisahlah karena Allah; 
33. Berlatihlah konsentrasi pikiran; 
34. Penuhi janji apabila telah diikrarkan dan mintalah maaf apabila karena sesuatu sebab tidak dapat dipenuhi; 
35. Jangan mempunyai musuh, kecuali dengan iblis/syaitan; 
36. Jangan percaya ramalan manusia; 
37. Jangan terlampau takut miskin; 
38. Hormatilah setiap orang; 
39. Jangan terlampau takut kepada manusia; 
40. Jangan sombong, takabur dan besar kepala; 
41. Berlakulah adil dalam segala urusan; 
42. Biasakan istighfar dan taubat kepada Allah; 
44. Hiasi rumah dengan bacaan Al-Quran; 
45. Perbanyak silaturrahim; 
46. Tutup aurat sesuai dengan petunjuk Islam; 
47. Bicaralah secukupnya; 
48. Beristeri/bersuami kalau sudah siap segala-galanya; 
49. Hargai waktu, disiplin waktu dan manfaatkan waktu; 
50. Biasakan hidup bersih, tertib dan teratur; 
51. Jauhkan diri dari penyakit-penyakit bathin; 
52. Sediakan waktu untuk santai dengan keluarga; 
53. Makanlah secukupnya tidak kekurangan dan tidak berlebihan; 
54. Hormatilah kepada guru dan ulama; 
55. Sering-sering bershalawat kepada nabi; 
56. Cintai keluarga Nabi saw; 
57. Jangan terlalu banyak hutang; 
58. Jangan terlampau mudah berjanji; 
59. Selalu ingat akan saat kematian dan sedar bahawa kehidupan dunia adalah kehidupan sementara; 
60. Jauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol yang tidak berguna; 
61. Bergaul lah dengan orang-orang soleh; 
62. Sering bangun di penghujung malam, berdoa dan beristighfar; 
63. Lakukan ibadah haji dan umrah apabila sudah mampu; 
64. Maafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita; 
65. Jangan dendam dan jangan ada keinginan membalas kejahatan dengan kejahatan lagi; 
66. Jangan membenci seseorang karena pahaman dan pendiriannya; 
67. Jangan benci kepada orang yang membenci kita; 
68. Berlatih untuk berterus terang dalam menentukan sesuatu pilihan 
69. Ringankan beban orang lain dan tolonglah mereka yang mendapatkan kesulitan. 
70. Jangan melukai hati orang lain; 
71. Jangan membiasakan berkata dusta; 
72. Berlakulah adil, walaupun kita sendiri akan mendapatkan kerugian; 
73. Jagalah amanah dengan penuh tanggung jawab; 
74. Laksanakan segala tugas dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan; 
75. Hormati orang lain yang lebih tua dari kita 
76. Jangan membuka aib orang lain; 
77. Lihatlah orang yang lebih miskin daripada kita, lihat pula orang yang lebih berprestasi dari kita; 
78. Ambilah pelajaran dari pengalaman orang-orang arif dan bijaksana; 
79. Sediakan waktu untuk merenung apa-apa yang sudah dilakukan; 
80. Jangan sedih karena miskin dan jangan sombong karena kaya; 
81. Jadilah manusia yang selalu bermanfaat untuk agama,bangsa dan negara; 
82. Kenali kekurangan diri dan kenali pula kelebihan orang lain; 
83. Jangan membuat orang lain menderita dan sengsara; 
84. Berkatalah yang baik-baik atau tidak berkata apa-apa; 
85. Hargai prestasi dan pemberian orang; 
86. Jangan habiskan waktu untuk sekedar hiburan dan kesenangan; 
87. Akrablah dengan setiap orang, walaupun yang bersangkutan tidak menyenangkan. 
88. Sediakan waktu untuk berolahraga yang sesuai dengan norma-norma agama dan kondisi diri kita; 
89. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan fisikal atau mental kita menjadi terganggu; 
90. Ikutilah nasihat orang-orang yang arif dan bijaksana; 
91. Pandai-pandailah untuk melupakan kesalahan orang dan pandai-pandailah untuk melupakan jasa kita; 
92. Jangan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain terganggu dan jangan berkata sesuatu yang dapat menyebabkan orang lain terhina; 
93. Jangan cepat percaya kepada berita jelek yang menyangkut teman kita sebelum dipastikan kebenarannya; 
94. Jangan menunda-nunda pelaksanaan tugas dan kewajiban; 
95. Sambutlah huluran tangan setiap orang dengan penuh keakraban dan keramahan dan tidak berlebihan; 
96. Jangan memforsir diri untuk melakukan sesuatu yang diluar kemampuan diri; 
97. Waspadalah akan setiap ujian, cobaan, godaan dan tentangan. Jangan lari dari kenyataan kehidupan; 
98. Yakinlah bahwa setiap kebajikan akan melahirkan kebaikan dan setiap kejahatan akan melahirkan merusakan; 
99. Jangan sukses di atas penderitaan orang dan jangan kaya dengan memiskinkan orang

"Sebarkanlah walau satu ayat pun" (Sabda Rasulullah SAW) "Nescaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Surah Al-Ahzab:71) 
----------
sumber : Milis Daarut Tauhiid

Saturday, May 12, 2012

ARTI SEBUAH KEJUJURAN.


 Didalam Islam, akhlaq tidak boleh dilepaskan dari aqidah dan Ibadah. Kalau kita ambil contoh buah, tentu buah ada bijinya, dan biji itulah inti, inti itulah yang disebut aqidah, dimana segala asal yang terjadi didalam kehidupan seorang muslim adalah karena aqidah (karena beriman kepada Allah). Aqidah hanya akan menjadi omong kosong jika tidak diikuti dengan ibadah sehingga jika ada 0rang mengakui iman sementara tidak ibadah, maka iman orang itu akan dikalahkan oleh syetan, karena masalahnya bukan hanya sekedar mengakui adanya Allah, karena syetan pun mengakui adanya Allah. Syetan mengakuinya bahwa dia diciptakan oleh Allah dari api, itu artinya syetan mengakui bahwa yang menciptakan dia adalah Allah. Maka intinya aqidah diproses oleh ibadah. Jika kita mengakui beriman, cinta kepada Allah, cinta kepada rasul sementara tidak mau beribadah, itu adalah pengakuan yang kosong.

 Indikasi benarnya dalam aqidah adalah dilihat dari kulitnya (akhlaqnya) . kulit atau tampilan luar adalah akhlaq. Kalau kulitnya (akhlaqnya) tidak baik maka itu pertanda isinya (aqidahnya) tidak baik. Datang seorang wanita kepada rasuluullah, lalu mengatakan : dia punya teman seorang perempuan yang shalatnya hebat, puasanya kuat, tapi kekurangannya ya Rasulullah, apabila mulutnya terbuka, maka akan lebih ganas dibanding harimau. Ketika mulutnya terbuka selalu ada yang disakiti, menyinggung dan menyakiti perasaan orang. Kesimpulan yang diungkapkan oleh Rasulullah adalah hubungannya antara akhlaq dengan ibadah. Kesimpulan itu adalah “ dia didalam api neraka “. Ini artinya, kalau akhlaqnya tidak benar, maka tidak ada artinya ibadah seorang perempuan tersebut, karena ibadah yang benar akan melahirkan akhlaq yang benar.

 Jadi akhlaq bukan masalah boleh-boleh saja, ini maslah serius yang menyangkut ibadah dan aqidah. Rasulullah pernah mengungkapkan tiga kali berturut-turut kata-kata “ Laa yu’min “ (tidak beriman). Para sahabat tercengang dan bertanya kepada Rasulullah : ”siapakah itu ya Rasulullah?” . Rasulullah menjawab “ Barang siapa tetangganya tidak merasa aman dari sikap dan prilakunya “. Pembahasan ini bukan pembahasan yang sederhana tapi menyangkut keimanan dan ibadah.

 Kalau membahas masalah akhlaq, maka tidak boleh terlepas hubungannya dengan aqidah dan ibadah. Semua tujuan manusia di dunai selain mencari pahala dari Allah tentunya adalah untuk beribadah dan membentuk Akhlaq. Contohnya adalah shalat. Tujuan shalat adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Kalau orang terus melakukan shalat sementara tidak lepas dari perbuatan keji dan mungkar, sama seperti pedagang yang terus berdagang tetapi tidak mendapatkan keuntungan sesuai tujuan (tidak mencapai tujuan). Begitupun dengan puasa, zakat haji dan ibadah-ibadah yang lainnya. Jadi , semua aktivitas harus bernilai ibadah harus ada unsur akhlaq dari setiap aktivitas ibadah yang dilakukan oleh manusia itu.

 Ada satu akhlaq yang sangat mendasar didalam Islam yaitu As Siddqi (jujur), lawannya adalah al kadzibu (dusta atau bohong). Rasulullah bersabda: “ setiap mukmin mungkin saja mempunyai sikap yang jelek,. Tetapi yang tidak boleh adalah al kadzibu (bohong) atau al khianat (khianat). Datang seorang kepada rasulullah dan berkata : “Ya Rasulullah, mungkinkah seorang mukmin itu penakut, mungkinkah seorang mukmin itu bakhil ?”. Jawab Rasulullah : “mungkin”. Sahabat kembali bertanya : “Mungkinkah seseorang mukmin al Kadzab (berdusta) ? Rasulullah menjawab : “Tidak mungkin”. Artinya akhlaq dasar yang paling minimal yang kita miliki yang mengatakan aku beriman kepada Allah adalah jujur. Lalu kalau ada orang mukmin tetapi bohongnya melebihi dari orang kafir, maka inilah yang menjadi masalah kita. Kadang kita sering berbohong tetapi tidak merasa iman kita bermasalah. Jadi, sifat dasar yang harus dimiliki seorang mukmin setelah berikrar dua kalimat syahadat adalah jujur.

 Jika masyarakat dibangun atas dasar kejujuran, maka akan terasa indah dan semua akan saling percaya. Jika diambil salah satu contoh dalam cerita pada masa Rasulullah, ada sebuah masjid yang pernah memiliki dua kiblat sehingga disebut masjid kiblatain, yaitu kiblat yang menghadap Masjid Al-Aqsa dan kiblat yang menghadap Masjidil Haram. Ketika turun ayat tentang perintah berubahnya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram, maka Rasulullah mengutus para sahabatnya ba’da shalat dzuhur untuk menyeru kepada masjid-masjid agar merubah kiblatnya. Masjid kiblatain dahulunya disebut masjid banu salamah. Ketika utusan Rasulullah tiba di masjid itu, (Masjid Banu Salamah) kaum muslimin ketika itu sedang melaksanakan shalat Ashar, lalu utusan Rasulullah itu meneriakan bahwa kiblat kita sudah berpindah (berubah). Kalau kita bayangkan jika berita itu terjadi pada masa sekarang atau hari ini ? barangkali ada dua kemungkinan, yakni cuek atau mungkin shalatnya akan bubar. Tapi waktu itu karena setiap mukmin itu jujur dan tidak pernah berbohong, maka makmum beserta imam serentak pindah arah kiblatnya karena yang memerintah orang mukmin dan yang mendengarpun orang mukmin. Tapi kalau sekarang, akan terasa repot kalau tidak melakukan cek dan ricek. Karena yang mendengarkan sering bohong dan yang menyampaikannya pun sering bohong yang akhirnya sama-sama saling suudzan (berburuk sangka). Hari ini gosip adalah berita yang saling menarik, dan gosip adalah duit dan kita sendiripun paling senang dengan berita gosip.

Mengapa kita tidak jujur ? mengapa kita sering berdusta ?

 Kita sering kali sulit untuk menerima berita, karena kebanyakan berita yang beredar ditengah-tengah kita bukan kebenaran. Pada masa sekarang orang lebih banyak “ berprasangka “ kepada orang lain. Pada zaman Rasulullah pun pernah terjadi prasangka, ada seorang yang berjalan dengan seorang perempuan di tempat yang remang-remang. Lalu orang tersebut itu mengklarifikasi kepada Rasulullah: “ Ya Rasulullah, yang berjalan itu adalah aku dan isrteriku. Rasulullah berkata : ”Jangan letakan dirimu pada tempat dimana orang akan berburuk sangka terhadap dirimu”. Jadi harus timbal balik, yakni kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain dan juga tidak boleh membuat orang berburuk sangka kepada diri kita. Artinya kalau orang lain tidak berburuk sangka kepada kita, maka kita jangan memposisikan diri kita pada tempat dimana orang lain akan berburuk sangka kepada kita. Karena sering adanya prasangka-prasangka seperti ini, maka kebanyakan kita adalah berprasangka bukan kebenaran. Maka salah satu yang dilarang oleh Rasulullah adalah “ qola waqila “ (katanya, katanya). Akibat terlalu banyak katanya-katanya Akhirnya benarnya tidak dibahas, bahkan berita yang benar A tetapi yang datang kepada orang Z.

Sifat yang tidak disukai oleh Allah adalah bohong, dan sifat yang dicintai oleh Allah adalah jujur.

 Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Aisyah dikatakan bahwa: “ Sifat yang dibenci oleh Rasulullah adalah bohong”. Kalau ada orang yang berbohong sekali, maka tidak akan hilang dalam ingatan Rasulullah sampai orang itu bertaubat. Mengapa bohong itu sangat serius ? dan jujur sangat penting ?. Jujur adalah pintu kebaikan. Bohong adalah pintu kejahatan. Artinya, kalau yang kita buka adalah pintu kejujuran, maka yang akan masuk adalah semua kebaikan. Seballiknya bohong adalah pintu kejahatan, kalau yang dibuka pintu kebohongan maka yang akan masuk adalah seluruh kejahatan.

Rasulullah saw bersabda :

“Wajib bagi kamu berlaku jujur, sesungguhnya kejujuran akan membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke syurga”.

 Ketika seseorang selalu jujur dan selalu berusaha untuk jujur, maka akan menjadikan dia selalu jujur. Abu Bakar disebut sebagai “ As Sidiq “ karena Beliau benar-benar orang yang jujur dan selalu yang pertama jujur kepada kebenaran. Ketika rasulullah bercerita tentang Isra dan Mi’raj, Abu Bakar tidak pernah berfikir tentang kejadian itu mungkin atau tidak mungkin walaupun secara logika itu tidak mungkin, karena Rasulullah saw seorang yang jujur maka Beliau mengatakan “ engkau benar ya Rasulullah “.

 Kalau kita berusaha jujur dan benar, Allah akan menjadikan kita orang yang benar. Menjadi orang yang benar tidak akan nyaman kalau bohong. Dalam lanjutan hadits di atas

“Jauhilah sifat dusta ( bohong ). Sesungguhnyua sifat dusta akan membawa kamu kepada kejahatan, dan perbuatan jahat akan membawa ke neraka.
Ada seorang yang datang kepada Rasulullah ingin memeluk agama Islam tetapi ia sangat menyukai berbuat zina.. Persoalan tersebut jika dibawa kepada seorang psikiater barangkali resepnya akan banyak, Akan tetapi Rasulullah sangat singkat memberikan resepnya, yaitu tidak boleh berdusta (bohong). Apa hubungan zina dengan bohong ? bohong adalah pintunya, jika pintunya dibuka, maka segala dosa itu akan masuk, tapi jika kebohongan itu ditutup maka segala dosa tidak akan masuk. Artinya dari seluruh kejahatan yang kita kerjakan itu akibat kita sering berani berbohong dan berdusta.

Cara menjaga nafsu Syahwat.

Jalan keluar paling ampuh untuk menjaga nafsu syahwat adalah dengan menikah. karena dengan menikah dapat menjaga pandangan dan kemaluan. adapun jika belum mampu menikah, maka perbanyak berpuasa. karena dengan berpuasa dapat mencegah nafsu syahwat yang berlebihan. Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda : 

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

Artinya : "Wahai para pemuda. barang siapa yang bisa jima' maka menikahlah. karena itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan. dan barang siapa yang belum bisa, maka berpuasalah. karena dengan itu dapat menahan syahwat." (HR Muslim) 

Dalam hadits diatas, Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- mengkhususnya perintah ini kepada pemuda. karena pemuda lebih besar gangguan syahwatnya dibanding orang yang sudah tua. 

Bisa jima' dan menanggung hal-hal yang diakibatkannya, seperti memberi nafkah baik berupa makanan atau pakaian. maka Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- memerintahkannya untuk segera menikah. 

Adapun pemuda yang mampu jima' akan tetapi belum mampu memberi nafkah, maka diperintahkan untuk berpuasa. karena ketika seseorang berpuasa dia berusaha menjaga puasanya dari hal-hal yang dapat membatalkan puasanya. dengan itu, dia akan lebih menjaga syahwatnya. 

Ciri-Ciri Istri sholehah.

Istri sholehah adalah idaman bagi setiap laki-laki. sholehah secara bahasa berarti layak dan pantas. dan istri sholehah adalah istri yang memiliki kepribadian layak sebagai seorang istri. kelayakan kepribadian tersebut dinilai dari sisi agama karena Islam telah memberitakan tentang ciri-ciri istri sholehah/idaman dalam banyak ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist Nabi.

Dan menjadi pribadi istri sholehah juga diidam-idamkan oleh kebanyakan wanita, baik yang telah menjadi istri atau yang belum. karena secara naluri, setiap orang selalu berusaha menjadi lebih baik dari apa yang pernah dia raih sebelumnya.

Jika anda seorang wanita yang ingin menyempurnakan kepribadian sehingga menjadi seorang istri yang sholehah, atau seorang laki-laki yang ingin memiliki seorang istri yang sholehah. perhatikan hadist berikut :

خير النِّسَاء امْرَأَة نظرت إِلَيْهَا سرتك وَإِذا أَمَرتهَا أَطَاعَتك وَإِذا غبت عَنْهَا حفظتك فِي نَفسهَا وَمَالك

Artinya : "Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang ketika engkau memandangnya akan membuatmu bahagia. dan jika diperintah, dia akan mentaatimu. dan jika engkau tidak bersamanya, dia akan menjagamu dalam dirinya dan menjaga apa-apa yang engkau miliki." (HR Abu Daud, Al-Hakim dan Al-Baihaqi)

- 3 Ciri-ciri Istri Sholehah/Idaman

1. Ketika dipandang, dia akan membuatmu bahagia, nyaman dan menentramkan jiwa.

2. Ketika engkau memerintahkannya akan sesuatu yang mubah/boleh, dia mentaatimu.

3. Ketika engkau pergi dan dia tidak bersamamu, dia akan menjaga dirinya untukmu dan juga menjaga apa-apa yang engkau miliki; harta, anak dan lain-lain.

Berlombalah untuk selalu menjadi lebih baik. memperbaiki kesalahan-kesalahan dan selalu berpikir maju. itulah pribadi seorang muslim yang hakiki

Thursday, April 12, 2012

PERISTIWA DI ALAM KUBUR.

Diriwayatkan dari Anas ra. : Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “ketika manusia berbaring di dalam kuburnya dan para sahabatnya pulang, ia mendengar langkah kaki mereka. Dua malaikat datang kepadanya, menyuruhnya duduk dan bertanya kepadanya; apa yang pernah kau katakan tentang Muhammad Saw ? ia akan berkata: aku bersaksi bahwa Ia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Kemudian akan dikatakan padanya, “lihatlah tempatmu di neraka, Allah telah menukarnya dengan dengan sebuah tempat di surga karena itu”. Kemudian Nabi Muhammad Saw menambahkan, “orang itu akan melihat kedua tempat itu. Tetapi orang kafir atau munafik akan berkata kepada dua malaikat itu, “aku tidak tahu, tetapi aku mengatakan apa yang dikatakan orang-orang!”. Akan dikatakan kepadanya, “kau tidak tahu tetapi kau tidak mengambil petunjuk (dengan mengikuti Al Quran). Kemudian ia akan dipukuli dengan palu besi di antara dua telinga nya, ia akan menjerit dan jeritannya terdengar oleh apa pun yang ada di dekatnya, kecuali manusia dan jin.”

Tuesday, March 27, 2012

Makna Kehidupan Yang Sesungguhnya.


Allah berfirman: “Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam – tanamannya mengagumkan para petani; kemudian ( tanaman ) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. (QS. Al – Hadid : 20)
Demikian ilustrasi Al-Quran dalam menggambarkan kehidupan dunia ini sebagai permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga dan berlomba dalam kekayaan, anak keturunan dan lain sebagainya. Kemudian mengumpamakan itu semua dengan tanam-tanaman yang pada awalnya mengagumkan petani kemudian menjadi kering dan hancur. Di ujung ayat ditutup dengan ungkapan “kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu”. Satu hal yang paling menakutkan adalah ayat ini disertai dengan ancaman bahwa di akhirat kelak ada azab yang keras, meskipun ada ampunan dan keridhaan Allah.
Mengingat hal tersebut di atas maka bisa dimengerti kenapa kita sebagai muslim yang meyakini kebenaran semua informasi yang datang dari Allah harus mengisi kehidupan ini sesuai dengan ajaran Islam. Karena hanya orang-orang yang hidup di dunia ini di bawah tuntunan dan petunjuk agama sajalah yang akan mendapat ampunan Allah dan keridhaan-Nya di akhirat kelak, selain itu akan mendapat azab yang keras dari-Nya. Oleh karena itu, setiap mukmin diperintahkan untuk beramal dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya semasa hidup di dunia ini. Hari demi hari yang dilalui harus semakin baik dan berguna bagi kehidupan di akhirat.
Jika manusia hanya menyibukkan dirinya untuk kepentingan dunia semata, maka mereka benar-benar menjadi orang-orang yang rugi di hari akhirat nanti. Karena itu, dalam banyak ayat Al-Quran manusia diingatkan agar senantiasa mempersiapkan bekal di kehidupan dunia yang singkat ini untuk kebahagiaan hari esok.
Khutbah singkat ini, ingin memberikan gambaran sekilas tentang cara memaknai hidup secara Islam dan di bawah panji-panji ajarannya yang hanif. Sehingga manusia terhindar dari kehidupan yang bernuansa permainan, perhiasan, senda-gurau dan sikap berbangga-bangga yang merupakan perbuatan sia-sia dari perbuatan syetan. Berikut ini akan dipaparkan beberapa cara memaknai hidup agar bermanfaat di dunia dan di akhirat, yaitu antara lain hidup ini harus diisi dengan hal-hal sebagai berikut:
Pertama, Islam mengajarkan manusia khususnya para pemeluknya untuk mengisi hidup ini dengan ibadah. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku”. (Qs. adz-Dzariyaat :56).
Akan tetapi ibadah yang dimaksudkan dalam ayat ini bukanlah semata-mata berbentuk kegiatan ritual, karena ibadah dalam Islam dalam maknanya yang luas tidak hanya mencakup ibadah ritual belaka, melainkan terkait dengan semua kegiatan hidup sehari-hari yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Kedua, Menjalin hubungan yang baik dengan Allah. Merupakan suatu keharusan mutlak bagi setiap muslim untuk menjalin hubungan baik dengan Allah, sehingga setiap Muslim akan merasa dekat dengan-Nya. Bila hubungan itu sudah terasa dekat, maka di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi dan bagaimana pun situasi dan kondisi yang dihadapinya, seorang muslim akan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Kalau perasaan ini sudah tertanam pada jiwa manusia, maka dia tentu tidak berani menyimpang dari jalan Allah.
Ketiga, Menjalin hubungan baik sesama manusia. Allah berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,…”. (Qs. Ali Imran : 112).
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri-sendiri, setiap manusia pasti membutuhkan kepada manusia lainnya. Karena demikian manusia harus menjalin komunikasi yang inten dan hubungan yang baik antara semamanya. Islam melarang manusia saling bermusuhan, saling mengadu domba, memfitnah, menggunjing, mencaci maki, mengupat, membuka aib saudaranya sampai pada iri hati, dengki dan lain sebagainya yang merupakan aktivitas hati.
Sebaliknya, manusia diharuskan agar senantiasa berbuat baik antara sesama, menjalin persaudaraan, menjaga persatuan dan kesatuan, selalu tolong menolong dalam kebaikan, sayang-menyayangi, bahu-membahu, saling memberikan hadiah.
Keempat, senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah. Al-Quran dan Sunnah merupakan pedoman dalam perjalanan hidup manusia. Barangsiapa yang berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya. Ibarat pelaut, Al-Quran dan Sunnah itu merupakan kompas yang menunjuki arah perjalanan. Apabila dua pedoman ini diabaikan, maka seorang muslim akan tersesat dari jalan hidup yang benar. Sebaliknya, bila pedoman ini di pegang erat-erat, niscaya seorang Muslim tidak akan berhasil disesatkan oleh setan dan para pengikutnya dari jalan hidup yang benar.
Kelima Mencari ridha Allah SWT. Allah berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”, (Qs. Al-Baqarah : 207).
Agar seorang Muslim bisa mencapai ridha Allah, maka dia harus tetap berada di jalan yang lurus. Artinya, kehidupan ini harus dijalani sesuai dengan jalan Ilahi, Allah berfirman, “Dan bahwa adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”. (Qs. al-An’am : 153).
Keenam, Berjihad dan berkorban di jalan Allah. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”. (Qs. at-Taubah : 20) Dalam konteks perjuangan di jalan Allah, pengorbanan menjadi sangat penting karena memang tidak mungkin perjuangan dapat berjalan dengan baik tanpa pengorbanan yang dilakukan oleh kaum Muslimin.
Ketujuh, Tidak melakukan kesalahan atau maksiat. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik Islam seseorang adalah yang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat”. (HR. Tirmizi dan Baihaqi). Dan dalam literatur turats disebutkan, “hari yang paling besar dalam hidup dan kehidupan seseorang adalah hari di mana dia tidak melakukan kesalahan dan maksiat sekecil apapun sehingga tidak ditulis atasnya pada hari itu dosa”.
Kedelapan Memanfaatkan waktu untuk berbuat taat. Waktu merupakan bagian tak terpisahkan dalam kehidupan, namun banyak manusia di dunia ini yang mengabaikan pemanfaatan waktu dengan baik. Waktu yang diberikan Allah kepada seseorang sepanjang hidupnya di dunia merupakan amanah yang perlu dijaga dan dimanfaatkan untuk berbuat taat kepadaNya.
Karena pentingnya pemanfaatan waktu maka Allah bersumpah dalam Al-Quran dengan firmanNya, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (Qs. al-‘Ashr : 1-3)
Kesembilan Mencari kebahagian untuk kehidupaan di akhirat. Akhinya, poin yang paling penting dari seluruh uraian di atas dalam mengisi kehidupan sesuai ajaran Islam adalah bagaimana kita bekerja keras untuk memperjuangkan nasib kita di akhirat kelak. Kalau bukan di kehidupan dunia ini kita melakukannya lalu di mana lagi, dunia adalah tempat bercocok tanam untuk akhirat

Entri Populer